BIBIT Samad Riyanto pensiun sebagai polisi pada 2000 dengan pangkat inspektur jenderal (irjen). Dengan pangkat setinggi itu, mestinya dia bisa tinggal di perumahan elite. Tapi, tidak demikian Bibit. Pecinta kesenian keroncong ini ternyata hidup sederhana di perumahan biasa. Kediaman Bibit terletak di kampung Pedurenan, belakang Perumahan Griya Kencana I, Ciledug, Tangerang. Berikut ulasan kisah Bibit (khususnya istrinya) dari hasil wawancara Wartawan Jawapos pada 17 Oktober 2009.

Dari jalan raya, kampung itu tidak memiliki pintu masuk sendiri. Untuk mencapainya, harus nebeng pintu masuk perumahan, kemudian melewati jalan sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. Setelah itu, baru sampai di perkampungan padat penduduk, tempat keluarga Bibit tinggal. Di depan rumah Bibit yang menghadap ke barat tersebut terdapat tanah kosong yang biasa dipakai warga untuk membakar sampah. Jadilah asap dan bau bakaran sampah familier dengan keluarga Bibit.
Di samping kanan rumahnya tersebut terdapat bekas kolam yang kini ditumbuhi rumput liar. Berimpitan dengan rumah itu, ada bangunan tak seberapa luas. Tempat tersebut dimanfaatkan untuk penitipan gerobak PKL para tetangga yang berdagang makanan keliling.
Sebenarnya, rumah yang ditinggali Bibit sejak 1992 tersebut cukup luas. Rumah itu berdiri di atas lahan seluas 600 meter persegi. Ada halaman lumayan luas di depan rumah. Dulu, halaman tersebut kerap dimanfaatkan para tetangga untuk berlatih musik keroncong.
Namun, seluruh bangunannya jauh dari kesan mewah. “Ya, gimana? Meskipun polisi, mampu belinya ya yang segini,” kata Sugiharti kepada Jawa Pos di kediaman tersebut Sabtu lalu (17/10). Tanah itu dibeli Bibit dari seorang anak buahnya seharga Rp 2 ribu per meter persegi pada 1989. Saat itu Bibit sudah menjadi perwira menengah.
Kendati terpencil, rumah tersebut cukup asri. Sejumlah tanaman dari jenis gelombang cinta dan jemani diletakkan di teras. Beberapa kursi tamu ditata memutari meja kecil. “Maaf, jangan duduk di situ. Kursinya jebol, belum diperbaiki,” ujar wanita 59 tahun itu kepada Jawa Pos sebelum duduk di salah satu kursi di teras.
Sugiharti amat tak percaya ketika suaminya dituding terlibat dalam kasus hukum penyalahgunaan kewenangan yang berbumbu pemerasan terhadap dua orang, yakni Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo dan Joko S. Tjandra. “Sama sekali saya tak percaya dengan tuduhan itu. Sejak dulu, hidup kami seperti ini,” ucapnya. “Kalau benar, mana duitnya?” terangnya lantas tersenyum.
Dia menjelaskan, anak-anaknya selalu berkumpul di rumah tersebut setiap Bibit diperiksa di Mabes Polri. Mereka terus memotivasi sang bapak agar kuat menghadapi cobaan dari jabatan pimpinan KPK tersebut. Beberapa anaknya juga kerap menyerahkan sejumlah kliping koran yang memberitakan kasus ayahnya. Yang pasti, mereka terus memantau kasus yang menjadi polemik itu. “Kasusnya selalu saya pelototi dari running text televisi,” tutur dia.
Titik -panggilan akrab Sugiharti- mengungkapkan, semua anaknya juga tak percaya dengan tudingan tersebut. Sebab, selama ini mereka terbiasa hidup sederhana. Meski sang ayah menyandang jabatan pimpinan penegak hukum paling garang (KPK), papar Sugiharti, anak-anak mereka tidak semau gue. Mereka hidup seadanya. “Anak-anak saya kalau beli rumah juga nyicil.”
Bagaimana para tetangga dan teman? Menurut Sugiharti, kasus yang membelit Bibit memancing para tetangga ikut bersuara. Dia menuturkan, beberapa tetangga bertanya, kemudian ikut mendukung Bibit. Mereka tak percaya jika Bibit benar-benar menerima duit suap seperti yang dituduhkan polisi selama ini.
Sugiharti kali pertama mendengar status tersangka dari Bibit. Ketika itu Bibit diperiksa di Mabes Polri. Kala ditetapkan sebagai tersangka, Bibit langsung mengirim SMS kepada Sugiharti. “Saya sekarang jadi tersangka,” terang Sugiharti menirukan bunyi SMS tersebut. Saat itu Sugiharti kaget. Tapi, dia tetap tidak percaya bahwa Bibit menerima dana Rp 1,5 miliar. Alasannya sederhana. “Lha, kalau nerima suap, mana duitnya?” tegasnya.
Sugiharti lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Sebelum dinikahi Bibit, wanita kalem tersebut kuliah di Akademi Keperawatan Depkes, Jakarta. Setelah lulus pada 1970-an, dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta hingga pensiun. Ketika itu Bibit muda bertugas di Bagian Intel Polda Metro Jaya sebelum akhirnya masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 1977.
Menurut Sugiharti, sebelum tinggal di tempat tersebut, keluarga mereka tinggal di Perumahan Cicurug Indah, tak jauh dari rumah sekarang. Rumahnya tipe 45. Tapi, karena berdiri di kawasan aliran sungai, perumahan itu sering kena banjir. “Dulu kami tinggal di sana. Kalau banjir, (genangan air, Red) bisa tiga meter,” terangnya. Akhirnya, pada 1991 mereka memutuskan untuk pindah ke rumah sekarang.
Meski bersuami polisi, wanita berambut sebahu tersebut menuturkan memang harus betah bertahan hidup dengan gaji semata. Kesederhanaan itu memang ditunjukkan suaminya sejak menjadi perwira pertama. “Bapak itu polisi yang nggak pintar cari duit,” kata dia lantas tersenyum. Bibit yang ikut mendampinginya pun tersenyum kecil.
Sejak awal, Sugiharti memang tidak berniat berhenti dari kerja. Maklum, gaji polisi memang tak seberapa. Sebagai istri Bibit, dia rela tinggal di mes polisi kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Meskipun perwira, Bibit dan keluarganya tak sungkan tinggal di kompleks bersama polisi berpangkat tamtama. “Kondisinya dulu menyedihkan. Lantainya disapu berkali-kali pun selalu berdebu,” ungkapnya. Tapi, kesetiaannya sebagai istri Bibit sama sekali tak luntur.
Sebagai perwira pertama, saat itu Bibit memiliki banyak tanggungan. Di antaranya, dia harus membiayai banyak adiknya. Mulai adik kandung sampai adik-adik istrinya. Bibit muda adalah gantungan hidup keluarga. Karena kurangnya penghasilan, Bibit tak hilang akal. Beberapa kali dia minta izin kepada istrinya untuk jadi sopir angkot setiap lepas dinas. Namun, keinginan tersebut tak pernah kesampaian.
Untuk menambah pendapatan, dia ikut membantu menjadi petugas keamanan di salah satu hotel kecil di kawasan Kemayoran. “Itu dijalani bapak selama beberapa saat,” ucap Sugiharti. Prinsipnya, yang penting halal. Saat kuliah di PTIK, Bibit rela mendapatkan tambahan uang sebagai penata arsip kepolisian. “Itu tadi, yang penting halal,” tegas dia. Dengan begitu, perlahan beban ekonomi keluarga terkurangi. Kesederhanaan itu pula yang melambungkan namanya hingga dinominasikan sebagai calon Kapolri di era Presiden Gus Dur.
Demikian juga setelah pensiun dari dinas kepolisian, Bibit tak ingin aktivitasnya berhenti begitu saja. Bibit mengajar di sejumlah kampus. Di antaranya, Universitas Bina Nusantara, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indonesia. Dia mengajar manajemen, mulai jenjang S-1 hingga S-3.
Sumber : http://JawaPos.co.id
Meskipun pensiunan jenderal polisi berbintang dua dan kemudian menjadi dosen dan terakhir menjadi Wakil Ketua KPK, Bibit dan keluarganya hidup sederhana. Dengan pangkat setinggi itu, mestinya dia bisa tinggal di perumahan elite. Tapi, tidak demikian Bibit. Pecinta kesenian keroncong ini ternyata hidup sederhana di perumahan biasa. Kediaman Bibit terletak di kampung Pedurenan, belakang Perumahan Griya Kencana I, Ciledug, Tangerang. Berikut ulasan kisah Bibit (khususnya istrinya) dari hasil wawancara Wartawan Jawapos pada 17 Oktober 2009.
Dari jalan raya, kampung itu tidak memiliki pintu masuk sendiri. Untuk mencapainya, harus nebeng pintu masuk perumahan, kemudian melewati jalan sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. Setelah itu, baru sampai di perkampungan padat penduduk, tempat keluarga Bibit tinggal. Di depan rumah Bibit yang menghadap ke barat tersebut terdapat tanah kosong yang biasa dipakai warga untuk membakar sampah. Jadilah asap dan bau bakaran sampah familier dengan keluarga Bibit.
Di samping kanan rumahnya tersebut terdapat bekas kolam yang kini ditumbuhi rumput liar. Berimpitan dengan rumah itu, ada bangunan tak seberapa luas. Tempat tersebut dimanfaatkan untuk penitipan gerobak PKL para tetangga yang berdagang makanan keliling.
Sebenarnya, rumah yang ditinggali Bibit sejak 1992 tersebut cukup luas. Rumah itu berdiri di atas lahan seluas 600 meter persegi. Ada halaman lumayan luas di depan rumah. Dulu, halaman tersebut kerap dimanfaatkan para tetangga untuk berlatih musik keroncong.
Namun, seluruh bangunannya jauh dari kesan mewah. “Ya, gimana? Meskipun polisi, mampu belinya ya yang segini,” kata Sugiharti kepada Jawa Pos di kediaman tersebut Sabtu lalu (17/10). Tanah itu dibeli Bibit dari seorang anak buahnya seharga Rp 2 ribu per meter persegi pada 1989. Saat itu Bibit sudah menjadi perwira menengah.
Kendati terpencil, rumah tersebut cukup asri. Sejumlah tanaman dari jenis gelombang cinta dan jemani diletakkan di teras. Beberapa kursi tamu ditata memutari meja kecil. “Maaf, jangan duduk di situ. Kursinya jebol, belum diperbaiki,” ujar wanita 59 tahun itu kepada Jawa Pos sebelum duduk di salah satu kursi di teras.
Sugiharti amat tak percaya ketika suaminya dituding terlibat dalam kasus hukum penyalahgunaan kewenangan yang berbumbu pemerasan terhadap dua orang, yakni Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo dan Joko S. Tjandra. “Sama sekali saya tak percaya dengan tuduhan itu. Sejak dulu, hidup kami seperti ini,” ucapnya. “Kalau benar, mana duitnya?” terangnya lantas tersenyum.
Dia menjelaskan, anak-anaknya selalu berkumpul di rumah tersebut setiap Bibit diperiksa di Mabes Polri. Mereka terus memotivasi sang bapak agar kuat menghadapi cobaan dari jabatan pimpinan KPK tersebut. Beberapa anaknya juga kerap menyerahkan sejumlah kliping koran yang memberitakan kasus ayahnya. Yang pasti, mereka terus memantau kasus yang menjadi polemik itu. “Kasusnya selalu saya pelototi dari running text televisi,” tutur dia.
Titik -panggilan akrab Sugiharti- mengungkapkan, semua anaknya juga tak percaya dengan tudingan tersebut. Sebab, selama ini mereka terbiasa hidup sederhana. Meski sang ayah menyandang jabatan pimpinan penegak hukum paling garang (KPK), papar Sugiharti, anak-anak mereka tidak semau gue. Mereka hidup seadanya. “Anak-anak saya kalau beli rumah juga nyicil.”
Bagaimana para tetangga dan teman? Menurut Sugiharti, kasus yang membelit Bibit memancing para tetangga ikut bersuara. Dia menuturkan, beberapa tetangga bertanya, kemudian ikut mendukung Bibit. Mereka tak percaya jika Bibit benar-benar menerima duit suap seperti yang dituduhkan polisi selama ini.
Sugiharti kali pertama mendengar status tersangka dari Bibit. Ketika itu Bibit diperiksa di Mabes Polri. Kala ditetapkan sebagai tersangka, Bibit langsung mengirim SMS kepada Sugiharti. “Saya sekarang jadi tersangka,” terang Sugiharti menirukan bunyi SMS tersebut. Saat itu Sugiharti kaget. Tapi, dia tetap tidak percaya bahwa Bibit menerima dana Rp 1,5 miliar. Alasannya sederhana. “Lha, kalau nerima suap, mana duitnya?” tegasnya.
Sugiharti lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Sebelum dinikahi Bibit, wanita kalem tersebut kuliah di Akademi Keperawatan Depkes, Jakarta. Setelah lulus pada 1970-an, dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta hingga pensiun. Ketika itu Bibit muda bertugas di Bagian Intel Polda Metro Jaya sebelum akhirnya masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 1977.
Menurut Sugiharti, sebelum tinggal di tempat tersebut, keluarga mereka tinggal di Perumahan Cicurug Indah, tak jauh dari rumah sekarang. Rumahnya tipe 45. Tapi, karena berdiri di kawasan aliran sungai, perumahan itu sering kena banjir. “Dulu kami tinggal di sana. Kalau banjir, (genangan air, Red) bisa tiga meter,” terangnya. Akhirnya, pada 1991 mereka memutuskan untuk pindah ke rumah sekarang.
Meski bersuami polisi, wanita berambut sebahu tersebut menuturkan memang harus betah bertahan hidup dengan gaji semata. Kesederhanaan itu memang ditunjukkan suaminya sejak menjadi perwira pertama. “Bapak itu polisi yang nggak pintar cari duit,” kata dia lantas tersenyum. Bibit yang ikut mendampinginya pun tersenyum kecil.
Sejak awal, Sugiharti memang tidak berniat berhenti dari kerja. Maklum, gaji polisi memang tak seberapa. Sebagai istri Bibit, dia rela tinggal di mes polisi kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Meskipun perwira, Bibit dan keluarganya tak sungkan tinggal di kompleks bersama polisi berpangkat tamtama. “Kondisinya dulu menyedihkan. Lantainya disapu berkali-kali pun selalu berdebu,” ungkapnya. Tapi, kesetiaannya sebagai istri Bibit sama sekali tak luntur.
Sebagai perwira pertama, saat itu Bibit memiliki banyak tanggungan. Di antaranya, dia harus membiayai banyak adiknya. Mulai adik kandung sampai adik-adik istrinya. Bibit muda adalah gantungan hidup keluarga. Karena kurangnya penghasilan, Bibit tak hilang akal. Beberapa kali dia minta izin kepada istrinya untuk jadi sopir angkot setiap lepas dinas. Namun, keinginan tersebut tak pernah kesampaian.
Untuk menambah pendapatan, dia ikut membantu menjadi petugas keamanan di salah satu hotel kecil di kawasan Kemayoran. “Itu dijalani bapak selama beberapa saat,” ucap Sugiharti. Prinsipnya, yang penting halal. Saat kuliah di PTIK, Bibit rela mendapatkan tambahan uang sebagai penata arsip kepolisian. “Itu tadi, yang penting halal,” tegas dia. Dengan begitu, perlahan beban ekonomi keluarga terkurangi. Kesederhanaan itu pula yang melambungkan namanya hingga dinominasikan sebagai calon Kapolri di era Presiden Gus Dur.
Demikian juga setelah pensiun dari dinas kepolisian, Bibit tak ingin aktivitasnya berhenti begitu saja. Bibit mengajar di sejumlah kampus. Di antaranya, Universitas Bina Nusantara, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indonesia. Dia mengajar manajemen, mulai jenjang S-1 hingga S-3.
No Related post.
weiiii hebat yah jarang2 ad yang seperti itu loh
mbah gendeng´s last blog ..Mbah Gendeng
[Balas]
oscorner Reply:
November 9th, 2009 at 12:53 pm
dah langka ya mbah ya
[Balas]
Oooh profilenya lengkap sekali…
[Balas]
olawaa … pak bibit orang yang rendah hati ternyata
olip´s last blog ..Resep Awet Muda Ala Purikan
[Balas]
oscorner Reply:
November 9th, 2009 at 12:53 pm
sama seperti saya yahh.. hihi…
[Balas]
Subhanallah….masih ada yaa orang ‘berpangkat’ yang kaya gini…semakin kagum aja…
silvi´s last blog ..hidup gue jadi ga sehat…
[Balas]
oscorner Reply:
November 5th, 2009 at 10:02 am
memang sosok yang luar biasa…terima kasih mbak silvi atas kunjungannya
[Balas]
sosok yang sangat Indonesia, jujur, sederhana. andai pejabat kita seperti itu mungkin negeri ini sudah bisa pergi bulan berkali-kali…
storykoe´s last blog ..October Wrap-Up
[Balas]
oscorner Reply:
November 6th, 2009 at 3:03 pm
hhwhahhhahw… andai semua itu terjadi mas….semoga saja .amien
[Balas]
pak bibit memang tokoh yang patut di teladani akan kesederhanaannya
arifudin´s last blog ..Koord 56
[Balas]
oscorner Reply:
November 9th, 2009 at 12:53 pm
betul mas arif
[Balas]
kejujuran dan keteladanan beliau sangat menginspirasi..
jarang ada tokoh dengan posisi besar seperti beliau “rela” hidup sederhana.
terimakasih dah mampir mas.. salam kenal juga
azaxs´s last blog ..Download Gratis KPK Di Dadaku
[Balas]
Teladan bagi pejabat masa depan.
semoga sifat ini senantiasa melekat pada pak Bibit.
[Balas]
oscorner Reply:
November 9th, 2009 at 12:53 pm
amien mas..
[Balas]
Aku sangat menghargai pejabat2 negara yg bisa hidup dengan kesederhanaan, karena itu sesuatu yg luar biasa. Dan sebaliknya, saya sangat dan sangat MENGUTUK dan INGIN MELUDAHI MEREKA-mereka pejabat yg selalu bergaya hidup mewah yang seolah MEREKA LUPA kalau hidup mereka di tanggung oleh keringat-keringat rakyat melalui pajak. tapi gaya mereka seolah seperti dewa penolong yang tlah memberi kesejahteraan kepada rakyat ….
Buat Pak Bibit, jika memang engkau tak bersalah, Yakinlah akan keadilan hukum dan Kuasa Tuhan..
Salam
[Balas]
Pa bibit emang orang yang sangat sederhana ya…
mudah-mudahn beliau tetap istiqomah… amiin
oh iya, salam dari subang mas..
ini kunjungan prdana saya.. salam kenal.
[Balas]
Pak Bibit benar2 contoh yg patut ditiru,
semakin tinggi keimanan seseorang, memang semakin banyak cobaan yg datang.
Semoga beliau termasuk orang2 yg disayangi Allah swt, amin.
Salam.
[Balas]
You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.
[Balas]